Jumat, 16 Mei 2014

SEJARAH BERDIRINYA NASYIATUL 'AISYIYAH

Nasyiatul Aisyiyah yang berdiri pada tanggal 28 Dzulhijjah 1349 H bertepatan dengan 16 Mei 1931 M. Tanggal 16 Mei 2014, umur Nasyiatul ‘Aisyiyah menjadi 83 Tahun. Bagi temen-temen yang belum tau, tentang sejarah berdirinya Nasyiatul ‘Aisyiyah, yuk kita baca bersama-sama yuk, bagaimana sejarah berdirinya Nasyiatul ‘Aisyiyah. Berdirinya Nasyi'atul Aisyiyah (NA) tidak bisa dilepaskan dari komitmen Muhammadiyah-‘Aisyiyah untuk menjaga keberlangsungan kader penerus perjuangan. Muhammadiyah memerlukan kader-kader tangguh guna melanjutkan estafeta perjuangan persyarikatan Muhammadiyah. Gagasan mendirikan NA bermula dari ide Soemodirdjo, seorang guru Standart School Muhammadiyah. Dalam usahanya untuk memajukan Muhammadiyah, ia menekankan pentingnya peningkatan mutu ilmu pengetahuan, baik pada aspek spiritual, intelektual, maupun jasmani. Ide Soemodirdjo tersebut kemudian diwujudkan dalam bentuk menambah pelajaran praktik bagi para muridnya yang diwadahi dalam kegiatan bersama. Dengan bantuan Hadjid, seorang kepala guru agama di Standart School Muhammadiyah, maka pada tahun 1919, Soemodirdjo berhasil mendirikan perkumpulan yang anggotanya terdiri dari para remaja putra-putri siswa Standart School Muhammadiyah. Perkumpulan tersebut diberi nama Siswa Praja (SP). Tujuan dibentuknya Siswa Praja adalah menanamkan rasa persatuan, memperbaiki akhlak, dan memperdalam agama. Pada mulanya, SP mempunyai ranting-ranting di sekolah Muhammadiyah yang ada, yaitu di Suronatan, Karangkajen, Bausasran, dan Kotagede. Seminggu sekali anggota SP Pusat memberi tuntunan ke ranting-ranting. Setelah lima bulan berjalan, diadakan pemisahan antara anggota laki-laki dan perempuan dalam SP. Kegiatan SP Wanita dipusatkan di rumah Haji Irsyad (sekarang Musholla ‘Aisyiyah Kauman). Beberapa jenis kegiatan SP Wanita, yaitu pengajian, berpidato, jama'ah subuh, membunyikan kentongan untuk membangunkan umat Islam Kauman agar menjalankan shalat shubuh, mengadakan peringatan hari-hari besar Islam, dan kegiatan keputrian. Kegiatan SP berkembang cukup pesat. Jenis Kegiatan yang dilakukannya mulai tersegmentasi sesuai usia. Kegiatan Thalabus Sa'adah diselenggarakan bagi anak di atas umur 15 tahun. Aktivitas Tajmilul Akhlak diadakan untuk anak berumur 10-15 tahun. Dirasatul Bannat diselenggarakan dalam bentuk pengajian sesudah Maghrib bagi anak-anak kecil. Sedangkan Jam'iatul Athfal dilaksanakan seminggu dua kali untuk anak berumur 7-10 tahun. Selain itu, tak jarang diselenggarakan juga tamasya ke luar kota setiap satu bulan sekali. Pada tahun 1924, akhirnya SP Wanita mampu mendirikan Bustanul Athfal, yakni usaha untuk membina anak laki-laki maupun perempuan berumur 4-5 tahun. SP Wanita juga menerbitkan buku nyanyian berbahasa Jawa dengan nama Pujian Siswa Praja.Pada tahun 1926, kegiatan SP Wanita sudah menjangkau cabang-cabang hingga di luar Yogyakarta. SP Wanita mulai diintegrasikan menjadi urusan ‘Aisyiyah di tahun 1923. Selanjutnya pada Konggres Muhammadiyah Ke-18 Tahun 1929, diputuskan bahwa semua cabang Muhammadiyah diharuskan mendirikan SP Wanita dengan sebutan ‘Aisyiyah Urusan Siswa Praja. Nama SPW pun mulai berganti menjadi Nasyiatul Aisyiyah setelah pada tahun 1931, dalam Konggres Muhammadiyah ke-20 di Yogyakarta, ditetapkan agar semua nama gerakan dalam Muhammadiyah harus memakai bahasa Arab atau bahasa Indonesia. Adapun simbol padi yang menjadi lambang NA diputuskan dalam Konggres Muhammadiyah ke-26 Tahun 1938 di Yogyakarta, yang sekaligus juga menetapkan nyanyian Simbol Padi sebagai Mars NA. Perkembangan NA semakin pesat pada tahun 1939 dengan diselenggarakannya Taman Aisyiyah yang mengakomodasikan potensi, minat, dan bakat putri-putri NA. Selain itu, Taman Aisyiyah juga menghimpun lagu-lagu yang dikarang oleh komponis-komponis Muhammadiyah dan dibukukan dengan diberi nama ‘Kumandang Nasyi'ah.’ Pada Sidang Tanwir Muhammadiyah tahun 1963 diputuskan untuk memberi status otonom kepada NA. Di bawah kepemimpinan Majelis Bimbingan Pemuda, NA yang saat itu dipimpin oleh Siti Karimah mulai mengadakan persiapan-persiapan untuk mengadakan musyawarahnya yang pertama di Bandung. Dengan didahului mengadakan konferensi di Solo, selanjutnya NA berhasil menyelenggarakan Munasnya pada tahun 1965 bersama-sama dengan Muktamar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di Bandung. Dalam Munas pertama tersebut, tampaklah wajah-wajah baru penuh semangat dari 33 daerah dan 166 cabang yang siap mengembangkan dakwah NA serta berkontribusi bagi umat dan bangsa. Sumber : www.nasyiah.or.id

Selasa, 06 Mei 2014

KULIAH DAKWAH ISLAM (KDI)

Kuliah Dakwah Islam yang disingkat dengan KDI diselenggarakan oleh Pimpinan Daerah Nayiatul 'Aisyiyah Kota Malang oleh bidang Dakwah yang dimulai pada tanggal 13 April 2014, kegiatan ini Insya Allah diselenggarakan setiap hari ahad pukul 09.00 - 12.00 wib di masjid Imam Bukhari Kompleks Kantor PDM KOta Malang, Kegiatan ini berlangsung selama 8x pertemuan dengan beberapa materi diantaranya: Mengapa kita harus berdakwah, Out Bond, Profil Dai Idaman,Fiqh Dakwah Praktis, Dakwah Fardiyah, Membangun Lembaga Dakwah Ideal, Dakwah Kreatif dan Psikologi Jamaah. Mengingat minimnya mubalighot maka kegiatan ini bertujuan untuk mencetak kader Nasyiah yang mempunyai kapasitas dalam berdakwah, baik dari penguasaan teori, konsep dan praktek. Kedepannya dipersiapkan untuk terjun di masyarakat minimal bisa menjadi metor di ORTOM Muhammadiyah maupun di lingkungan masing-masing. Kami usahakan, Insya Allah dalam waktu dekat tepatnya saat bulan Ramadhan, Mubalighot Nasyiah sudah siap untuk ditempatkan di cabang dan ranting yang dirasa membutuhkanperan aktif mubalighot.

LATIHAN INSTRUKTUR NASYIATUL 'AISYIYAH 1 (LINA 1)

Latihan Instruktur Nasyiatul 'Aisyiyah I yang diselenggarakan oleh Pimpinan Daerah Nasyiatul 'Aisyiyah Kota Malang Pada Hari Sabtu-Ahad, 29-30 Maret 2014 yang bertempat di Panti Asuhan KH Mas Mansyur yang diikuti oleh 7 orang peserta. Kegiatan ini diharapkan dapat mencetak Instruktur yang berkepribadian Nasyiah, sesuai dengan temanya. Walaupun yang mengikuti kegiatan ini hanya 7 orang, namun peserta merasa kegiatan ini sangat bermanfaat bagi mereka.

Rabu, 26 Februari 2014

Pelatihan Mubalighot

Ahad, 23 Februari 2014 Pimpinan Daerah Nasyiatul 'Aisyiyah Kota Malang mengadakan kegiatan Pelatihan Mubalighot yang bertemakan "Menyiapkan Kader Umat Yang Cerdas, Bertaqwa, Serta Meningkatkan Keahlinnya untuk Beramar Ma'ruf Nahi Munkar". Kegiatan ini diselenggarakan di Aula Masjid AR Fachruddin Lantai II Universitas Muhammadiyah Malang yang diikuti oleh 62 orang peserta. Kegiatan ini dimulai pukul 09.00 wib - 16.30 wib Alhamdulillah peserta yang bertahan sampai kegiatan selesai sebanyak 35 orang peserta, merekalah orang-orang yang sabar dan ikhlas dalam menuntut ilmu di kegiatan ini.
Adapun materi yang diberikan dalam pelatihan ini adalah a) Publik Speaking yang disampaikan oleh Bapak Nasrullah, MSi yang mana makna dari Publik Speaking adalah Ketrampilan berbicara di depan khalayak umum untuk diperhatikan orang atau bisa juga diartikan Ilmu berperilaku. b) Managemen Dakwah yang disampaikan oleh Bapak Sarif HHidayatullah, S.Ag yang mana Managemen dakwah sangatlah penting, karena berdakwah pun harus memiliki perencanaan dakwah, perencanaan materi, controling kegiatan, dan evaluasi kegiatan, tanpa ini semua dakwah kita tidak bisa berjalan dengan baik. c) Profil Mubalighot yang disampaikan oleh Ibu Dra. Sri Herawati, bahwa kita tidak boleh takut berdakwa, "Sampaikanlah ilmu walau hanya satu ayat", lakukan apapun dengan niat karena Allah SWT. Untuk berdakwah tidak boleh sakit hati kalau yang datang sedikit dan tidak boleh sambong kalau datang bnayak, dan menyadari bahwa dakwah adalah kewajiban setiap muslim yang bersandar pada QS. At-Taubah ayat 71 " Dan orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan sebahagian mereka adalah menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka meyuruh yang ma'ruf, mencegah yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." Mudah-mudahan dengan terselenggaranya pelatihan mubalighot ini, dapat bermunculan mubalighot-mubalighot muda yang bisa menolong para remaja putri dan orang perempuan lainnya dari jalan yang gelap menuju jalan yang terang benderang addinul Islam.

Pelatihan Corel Dan Pembuatan Blog

Alhamdulillahhirabbil alamin, pada Hari Ahad, 16 Februari 2014 Pimpinan Daerah Nasyiatul 'Aisyiyah Kota Malang telah mengadakan pelatihan Corel dan Pembuatan Blog bagi Pimpinan Daerah Nasyiatul 'Aisyiyah Kota Malang, Kegiatan ini diikuti 8 orang peserta yang dipandu oleh Saudara Prima Tahta Amrillah dan Ar-Rijal Fahrudin dari teman-teman IMM Universitas Brawijaya Kota Malang. Kegiatan ini dimulai pukul 10.00 wib sampai 17.30 wib, pelatihan ini diselenggarakan di ruang tamu PDM Kota Malang Jl. Gajayana 28 B Kota Malang. Peserta kegiatan ini sangat senang, karena pelatihan ini memberi ilmu-ilmu baru tentang desain pembuatan buletin dan pembuatan blog. Mudah-mudahan Pimpinan Daerah Nasyiatul 'Aisyiyah Kota Malang, bisa mengadakan pelatihan ini lagi, karena waktu sehari kemarin tidak cukup untuk menggali lebih dalam tentang corel dan blog. Ilmu Allah SWT sangat luas, dan kita tidak sanggup mempelajari semuanya. Oleh karena itu, kita sebagai manusia janganlah sombong dengan ilmu yang kita miliki, karena masih banyak ilmu lain yang belum kita kuasai. Sehingga, benar adanya pepatah mengatakan bahwa "Carilah ilmu dari buaian hingga liang lahat", maka Marilah ber Fastabiqul Khoirot bersama dalam mengejar ilmu dan mengamalkannya. SMANGAT! :)

Dakwah Ala Rasulullah

Kajian Rutin Pimpinan Daerah Nasyiatul 'Aisyiyah Kota Malang, Pada Hari Sabtu, 15 Februari 2014 bertempat di Masjid Imam Bukhari Komplek PDM Kota Malang Jl. Gajayana 28 B Kota Malang. Kajian ini diisi oleh Mbak Putri Ivana yang mengambil tema "Dakwah Ala Rasulullah". Kajian ini dimulai pukul 15.30 dan diakhiri pukul 17.000, Alhamdulillah kajian ini diikuti oleh 5 orang, walaupun pesertanya sedikit, akan tetapi tidak menyurutkan kami untuk terus melangsungkan kajian ini, karena untuk mendapatkan ilmu tidaklah mudah harus dengan rasa sabar dan ikhlas. Kesimpulan kajian ini adalah Dakwah memiliki makna "MENGAJAK", Mengajak pada kebenaran. Dan pendekatan dakwah dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu a) Dakwah Bilisan artinya berdakwah dengan lisan yaitu menyampaikan ayat-ayat Al-Qur'an atau Hadist dengan ucapan, b) Dakwah Bilkitabah yaitu dakwah melalui tulisan, menyampaikan Firman-firman Allah SWT dan Hadist-hadist Nabi Muhammad SAW melalui media tulisan bisa melalui buku, koran, buletin dan lain-lainnya, c) Dakwah Bilhal adalah dakwah dengan perbuatan atau tingkah laku, misalnya berkata dengan perkataan yang baik, memakai pakaian sesuai dengan syar'i

Rabu, 29 Januari 2014

ASAL USUL VALENTINE

Tahukah kalian teman-teman Bagaimana Asal-usul Hari Valentine itu, Budaya siapakah Hari Valentine itu, Perlukah kita mengikutinya sebagai seorang Muslimah? Temukan jawabannya di tulisan ini. Valentine sebenarnya adalah seorang biarawan Katolik yang menjadi martir. Valentine dihukum mati oleh kaisar Claudius II karena menentang peraturan yang melarang pemuda Romawi menjalin hubungan cinta dan menikah karena mereka akan dikirim ke medan perang. Ketika itu, kejayaan kekaisaran Romawi tengah berada di tengah ancaman keruntuhannya akibat kemerosotan aparatnya dan pemberontakan rakyat sipilnya. Valentine, sang biarawan muda melihat derita mereka yang dirundung trauma cinta tak sampai ini. Diam-diam mereka berkumpul dan memperoleh siraman rohani dari Valentine. Sang biarawan bahkan memberi mereka sakramen pernikahan. Akhirnya aksi ini tercium oleh Kaisar. Valentine dipenjara. Oleh karena ia menentang aturan kaisar dan menolak mengakui dewa-dewa Romawi, dia dijatuhi hukuman mati. Pada tahun 496, Paus Gelasius I menyatakan 14 Februari sebagai hari peringatan St. Valentine. Kebetulan tanggal kematian Valentine bertepatan dengan perayaan Lupercalia, suatu perayaan orang Romawi untuk menghormati dewa Kesuburan Februata Juno. Dalam perayaan ini, orang Romawi melakukan undian seksual! Caranya, mereka memasukka nama ke dalam satu wadah, lalu mengambil secara acak nama lawan jenisnya. Nama yang didapat itu menjadi pasangan hidupnya selama satu tahun. Lalu pada perayaan berikutnya mereka membuang undian lagi. Rupanya Paus tidak sreg pada cara perayaan ini. Karena itulah, gereja sedikit memodifikasi perayaan ini. Mereka memasukkan nama-nama santo dalam kotak itu. Selama setahun setiap orang akan meneladani santo yang tertulis pada undian yang diambilnya. Untuk membuat acara itu sedikit lucu, gereja juga memasukkan nama Simeon Stylites. Orang yang mengambil nama ini dianggap apes alias tidak mujur, soalnya Simeon menghabiskan hidupnya di atas pillar, tidak beranjak satu kali pun. Nama Valentine lalu diabadikan dalam festival tahunan ini. Di festival ini, pasangan kekasih atau suami istri Romawi mengungkapkan perasaan kasih dan cintanya dalam pesan dan surat bertuliskan tangan. Di daratan Eropa tradisi ini berkembang dengan menuliskan kata-kata cinta dan dalam bentuk kartu berhiaskan hati dan dewa Cupid kepada siapapun yang dicintai. Atau memberi perhatian kecil dengan bunga, coklat dan permen. Masihkah kita mau merayakan Hari Valentine yang bukan ajaran Islam, Islam mengajarkan setiap hari kita harus saling berkasih sayang, tanpa harus dirayakan setiap tahun. Sumber: http://crosswalk.com/faith/ministry_articles/guestcolumns/509916.html;ht...Tempo; majalah Hidup.

PELATIHAN ADMINISTRASI PDNA KOTA MALANG

“Mewujudkan Tertib Administrasi Untuk Organisasi Ideal” adalah tema Pelatihan Administrasi yang diadakan oleh PDNA Kota Malang pada hari Ahad, 8 Desember 2013 di Aula PR I UMM. Kegiatan ini merupakan program kerja dari Sekretaris umum yang diharapkan setelah ikut pelatihan ini semua pengurus Pimpinan Nasyiatul ‘Aisyiyah Kota Malang memiliki gambaran yang sama tentang administrasi Nasyiatul ‘Aisyiyah, mengingat backgroun anggota Nasyiatul ‘Aisyiyah yang berbeda-beda, sehingga pelatihan ini sangat diperlukan bagi kader. Pelatihan ini dimulai pada pukul 09.00 yang mana dibuka langsung oleh Ketua PDNA Kota Malang Nasyiatul ‘Aisyiyah Kota Malang, kegiatan ini diikuti kurang lebih 25 peserta yang terdiri dari Pimpinan Ranting Nasyiatul ‘Aisyiyah, Pimpinan Cabang Nasyiatul ‘Aisyiyah dan Pimpinan Daerah Nasyiatul ‘Aisyiyah Kota Malang. Dalam sambutannya beliau mengatakan bahwa “Kader Nasyiatul ‘Aisyiyah harus multi talent mengingat pengurus yang terbatas, sehingga tidak bisa menunggu satu sama lain, kita harus bisa saling membantu dalam berorganisasi agar roda organisasi bisa berjalan dengan baik demi terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.” Pelatihan ini terdiri dari beberapa rangkaian kegiatan yang diawali dengan Materi Administrasi Keuangan yang diberikan oleh Fatimah Az-Zahro, STP dan Materi Administrasi yang meliputi surat menyurat serta pembuatan proposal yang diberikan oleh Nurul Fajriyah, STP sebagai Sekretaris Umum PWNA Jatim. Kegiatan ini diakhiri dengan praktek pembuatan surat menyurat dan pembuatan proposal.

TURBA DI PCNA LOWOKWARU

Rangkaian Kegiatan Departemen Kader PDNA Kota Malang Periode 2012-2016, pada Bulan Januari adalah Turba Di PCNA Lowokwaru pada hari Ahad, 12 Januari 2014 di Aula Panti Putri ‘Aisyiyah Kota Malang yang mana seharusnya bulan Desember, karena waktunya belum tepat sehingga Alhamdulillah baru dapat dilaksanakan. Kegiatan ini dimulai pukul 09.00 – 11.00 yang mana kegiatan ini memperkenalkan program kerja Pimpinan Daerah Nasyiatul ‘Aisyiyah Kota Malang Periode 2012-2016. Dengan sosialisasi program kerja daerah ini, diharapkan Pimpinan Cabang dan Pimpinan Ranting Nasyiatul ‘Aisyiyah bisa mengetahui program apa saja yang dimiliki oleh PDNA Kota Malang, sehingga bisa saling mensinergikan program kerja antar bidang, dan bisa saling mendukung satu sama lain. Turba ini diikuti kurang lebih 15 orang dari Pimpinan Ranting dan Pimpinan Cabang Lowokwaru, semoga dengan adanya turba ini hubungan antara Pimpinan Daerah Nasyiatul ‘Aisyiyah dengan Pimpinan Ranting dan Pimpinan Cabang se-Kota Malang semakin baik, sehingga bisa menghasilkan kegiatan-kegiatan yang lebih positif bagi perempuan-perempuan Islam khususnya di Kota Malang.

Jumat, 29 November 2013

“SEMULIA AKHLAK NABI:AMANAH”

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal:27) Amanah merupakan akhlak yang mendasar dalam Islam. Sesungguhnya akhlak amanah merupakan sarana dakwah untuk menuju perubuhan yang lebih baik. Amanah merupakan lawan kata dari khianat. Dalam QS.Al-Anfal:27, Allah melarang kita mengkhianati Allah (meninggalkan perintah-Nya)dan mengkhianati Rasul (tidak mengikuti, tidak melaksanakan, tidak menyebarkan, dan meninggalkan Sunnahnya). Akhlak amanah juga terdapat pada QS. An-Nisa’:58.Urgensi Amanah : 1. Melaksanakan amanah dapat menghapus kesalahan. “Shalat lima waktu, dari Jum’at ke Jum’at dan melaksanakan amanah merupakan kafarah bagi dosa-dosa keduanya.” (HR.Ibnu Majah) 2. Apabila kita mengamalkan maka kita dijamin masuk surga. “Enam perkara yang dapat menjamin kalian masuk surga: jujurlah jika berbicara, tepatilah jika berjanji, laksanakanlah (amanat) jika kalian dipercaya, peliharalah kemlauanmu, jagalah pandanganmu, dan tahanlah tanganmu” (HR.Ahmad) 3. Khianat merupakan salah satu tanda kemunafikan dalam akhlak. “Tanda-tanda kemunafikan itu ada tiga: jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia tidak menepati, dan jika dipercaya ia mengkhianati.” (HR.Bukhari dan HR. Muslim) 4. Tidaklah beriman orang yang tidak amanah. “Tidaklah dikatakan beriman bagi orang yang tidak mempunyai rasa amanah dan tidaklah berIslam bagi orang yang tidak menepati janjinya.” (HR.Ahmad) 5. Apabila kita mengamalkan berarti kita telah menggenggam dunia seisinya. “Empat perkara yang harus dimiliki oleh seseorang maka engkau tidak akan kehilangan dunia seisinya: menjaga amanah, jujur dalam berbicara, berbudi pekerti, dan senantiasa menjaga kesucian.” ( HR. Ahmad) 6. Salah satu pesan Nabi pada khutbah wada’. “Wahai manusia, barangsiapa yang diserahi suatu amanah, hendaklah ia melaksanakannya pada orang yang telah mempercayainya...” (HR. Ahmad) Macam-macam Amanah 1. Amanah terhadap harta benda dan barang titipan. “ Orang mukmin adalah orang yang dapat menjaga kedamaian orang lain baik dari segi darahnya maupun hartanya.” (HR.At-Tirmidzi) 2. Amanah dalam jual beli. “Pedagang yang jujur lagi terpercaya berkumpul bersama dengan para Nabi, orang-orang yang membenarkan, dan para syuhada.” (HR. Ibnu Majah) 3. Amanat Menjaga Rahasia Menjaga rahasia orang yang bercerita kepada kita. Hal ini terdapat pada HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ahmad. Menjaga rahasia terkait suami-istri dan rumah tangga. Hal ini terdapat pada HR.Muslim dan Abu Dawud 4. Amanat berinteraksi dengan wanita. Amanat yang berhubungan dengan pergaulan antara laki-laki dan perempuan, sebagaimana kisah Nabi Musa pada QS. Al-Qashash:23-26. Istri merupakan amanah yang terpikul di pundak suami dan akan ditanyai pada saat kiamat ketika menghadap Allah. 5. Amanat anak ketika berinteraksi dengan orang tua. Tidak mengambil harta tanpa sepengetahuan orang tua dan sebelum melakukan sesuatu meminta izin serta persetujuan dari orang tua. 6. Amanat yan tiada habis-habisnya Mendidik anak, kesehatan kita, mata, lidah, pendengaran, penciuman, rambut, dan segala sesuatu yang kita miliki dan kita daya gunakan adalah amanat. 7. Amanat dalam memikul agama Islam Sesungguhnya amanat menjaga agama ini adalah mendakwahkannya kepada seluruh manusia, sebagaimana terdapat pada QS.Al-Imran:110 “Ya Allah, berilah kekuatan pada punggungku tanpa kau kurangi bebanku.” (Doa Umar bin Khatab) Sumber: Semulia Akhlak Nabi, penulis Amru Khalid, penerbit Aqwam

Senin, 15 Juli 2013

Barisan Itu Bernama Nasyiatul 'Aisyiyah

 “Dan Orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan sebagian mereka adalah menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh mengerjakan yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”
 QS. At-Taubah (9) : 71
Alhamdulillahirabbil alamin, Musyawarah Daerah Pimpinan Daerah Nasyiatul ‘Aisyiyah Kota Malang Periode 2010-2012 telah dilaksanakan pada Hari Ahad, Tanggal 25 Mei 2013 di Aula Utama Putri ‘Aisyiyah Kota Malang. Kegiatan ini mengambil tema “Gerakan Advokasi Untuk Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan”.  Yang mana menghasilkan Fatimah Az-zahro, STP sebagai ketua terpilih periode 2012-2016 yang menggantikan Wijayanti, S.PdI sebagai ketua periode 2010-2012. 
Kami ucapkan selamat datang kepada pengurus baru, mudah-mudahan Allah SWT selalu memudahkan gerak langkah kita dalam berjihad fi sabilillah melalui organisasi Nasyiatul ‘Asiyiyah Kota Malang ini.
Nasyiatul ‘Aisyiyah adalah organisasi otonom Muhammadiyah, merupakan gerakan putri Islam yang bergerak di bidang keperempuanan, keagamaan, kemasyarakatan, dan pendidikan. Adapun tujuan organisasi ini adalah terbentuknya putri Islam yang berarti bagi keluarga, bangsa dan agama menuju terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Sesungguhnya putri-putri Islam memiliki tanggung jawab terhadap agama, bangsa dan Negara untuk mewujudkan cita-cita umat Islam. Agar dapat menunaikan kewajiban tersebut, putri-putri Islam hendaklah senantiasa terdidik akhlaknya, memuliakan agama, ikhlas bekerja karena Allah semata, dan senantiasa berjuang dengan gembira. Nasyiatul ‘Aisyiyah adalah Keputrian yang berdasarkan Al-Qur’an dan Hadist.
 “Sungguh Al-Qur’an ini menunjuk pada hal-hal yang lebih tepat dan selalu memberi berita gembira (menumbuhkan optimisme) kepada orang-orang yang mengimankan yang selalu mengamalkan hal-hal yang baik (tepat). Sungguh bagi mereka pahala yang besar”. ( QS. Al Isra : 9 )
Ketika kita berkecimpung di organisasi berbasis Islam, maka kita posisikan diri kita seperti tentara-tentara perang di medan perang, karena kita berjihad tidak dengan pedang, tetapi kita berjihad melalui pendidikan dan permasalahan masyarakat yang harus diselesaikan. Maka sebagai putri Islam, sudah sepantasnya kita mengambil bagian di barisan tentara-tentara perang yang kita buat melalui organisasi Nasyiatul ‘Aisyiyah. 
“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: "Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat !" Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata : "Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai kepada beberapa waktu lagi ?" Katakanlah : "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun.” QS. Annisa ( 4) : 77
Ketika berkecimpung di organisasi Islam, maka tantangan sangat banyak, Nabi Muhammad SAW ketika berdakwah secara sembunyi-sembunyi sudah banyak tantangannya, apalagi saat berdakwah secara terang-terangan lebih besar lagi  tantangannya.  Saat ini, kita lah yang meneruskan perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam menegakkah kalimat Allah SWT di muka bumi ini. Tentu dengan tantangan yang lebih besar dan beragam, karena kita hidup di era serba modern. Maka saat berdakwah, kita dilarang berputus asa seperti dalam Firman Allah SWT dalam QS. Annisa ayat 104.
 “Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.


Setidaknya, ketika kita waktu mati nanti, bisa mempertanggungjawabkan umur kita habis untuk apa, harta kita diperoleh dari mana, dibelanjakan kemana saja. Oleh karena itu, hidup ini tidak untuk bermalas-malasan, hidup harus diperjuangkan, waktu kita digunakan dengan sebaik-baiknya, tidak hanya melihat televise, mendengar radio, nongkrong di café-café. Kita semua tidak ada yang tahu kapan kematian akan menjemput kita, semua orang pasti mengharapkan mati dalam keadaan khusnul khotimah. Marilah kita rapatkan barisan kita, untuk memperjuangkan agama Islam di muka bumi ini, khususnya di Kota Malang, agar bisa mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya yang berpedoman pada Al-Qur’an dan Hadist. Wallahu a’lam bishowab

Selasa, 02 Juli 2013

JILBAB SIMBUL KEMULYAAN WANITA ISLAM

Pada Hari Ahad, Minggu ke dua dan ke empat setiap bulannya, Pimpinan Cabang Lowokwaru mengadakan kajian rutin keputrian dan mengasah keahlian dalam hand craft. Kegiatan pada Minggu kedua adalah mengaji tartil, kajian keputrian dan acara terakhir diisi kerajinan tangan dari tali kur oleh Ibu Eny Hariati dari Ranting ‘Aisyiyah Merjosari dan beliau juga pengurus Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah Lowokwaru. Minggu ke- empatnya diisi kajian ke-Islaman, mengaji tartil dan belajar kerajinan tangan merajut yang diisi oleh Ibu Emy Fatmawati, beliau pengurus Pimpinan Cabang Nasyiatul ‘Aisyiyah Lowokwaru. Kegiatan ini rutin, dilaksanakan di Masjid Panti Asuhan Putri ‘Aisyiyah yang terletak di Jl. MT. Haryono Gg III Dinoyo, mulai pukul 08.30 – 11.00 WIB. Kegiatan ini rutin dilaksanakan secara bersama-sama dengan Pimpinan Ranting Nasyiatul ‘ Aisyiyah Panti Putri ‘Aisyiyah Kota Malang. Materi kajian minggu keempat bulan Juni 2013 kemarin adalah tentang Adabul Mar’ah yang mana membahas tentang Jilbab. Kajian ini diisi oleh mbak Reni Nur Farida, S.PdI, selaku ketua Pimpinan Cabang Nasyiatul 'Aisyiyah Lowokwaru.

Melihat dan merasakan fenomena kehidupan saat ini, kalau tidak mendekat pada Allah SWT dan menjadikan Al-Qur’an dan Hadits sebagai pedoman perjalanan hidup, maka hidup kita akan terasa kosong, tidak punya arah tujuan. Mereka hanya sekedar mencari kebahagiaan sesaat, kebahagiaan yang tidak bisa dipertanggung jawabkan di akhirat kelak.
Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul ( Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pecinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. ( QS. An-Nisa ( 4) : 69)
Saat ini, teman terbaik bagi kita adalah orang-orang saleh. Orang-orang yang mau mejalani kehidupannya sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadist. Ketika kita, mengaku sebagai wanita muslimah, sudah selayaknyalah kita mengikuti aturan dalam agama Islam dalam berperilaku, berakhlak terhadap orang lain. Ketika kita mau menutup aurat kita sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Hadist, maka setidaknya kita menghormati diri sendiri dan orang lain. Bukankah, kita sangat bahagia diberi penghormatan. Apalagi kita yang menghormati diri kita sendiri, bukan berarti akan sombong, tetapi lebih menghargai diri sendiri. Ketika kita sudah bisa menghargai diri sendiri, maka orang lain akan bisa lebih menghargai kita dan sebaliknya.
 “Wahai anakku Fatimah! Adapun perempuan-perempuan yang akan digantung rambutnya hingga mendidih otaknya dalam neraka adalah mereka itu di dunia tidak mau menutup rambutnya daripada dilihat laki-laki yang bukan mahramnya” (HR. Bukhari & Muslim).

Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. QS. An-Nur (24) : 31

Dan saat ini Teknologi semakin maju, banyak wanita yang berpakaian namun telanjang seperti pakaian ketat, pakaian legging yang seharusnya dibuat daleman, dipakai ke acara-acara pesta, hajatan. Dan ironisnya mereka merasa nyaman memakai pakaian itu. Mereka beralibi, bahwa pakaian itu lagi tren di kalangan artis-artis ibukota. Artis-artis ibukota yang memakai pakaian, namun telanjang tidak memiliki pengetahuan agama dan adab kesopanan yang cukup, sehingga tidak layak untuk dicontoh. Biarpun mengaku beragama Islam, namun mereka bukanlah orang Islam yang sesungguhnya, karena meninggalkan Al-Qur’an dan Hadist.

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. QS. Al-Ahzab (33): 59

Inilah salah satu ajaran Agama Islam yang menghormati kaum wanita, agar mereka mau mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuhnya agar mereka tidak diganggu. Pada kenyataaannya, banyak wanita yang ingin diganggu dengan membuka aurat mereka di hadapan orang banyak, semakin minim pakaiannya semakin mahal harganya.
Coba kita lihat dan kita bandingkan antara orang zaman sekarang yang mengaku masyarakat modern dengan orang dari suku dayak, yang tidak memakai baju. Apakah layak, mereka dikatakan sebagai masyarakat modern, padahal cara berpakaiannya saja seperti orang dari suku tertinggal.
Agama Islam adalah agama Modern yang mengajarkan kesopanan dalam berpakaian, maka jangan mengikuti orang-orang yang tidak beragama dan tidak punya sopan santun dalam bermasyarakat.  Segala aktivitas kita, bernilai ibadah di sisi Allah SWT, maka ketika kita berjilbab akan bernilai ibadah jika kita niatkan untuk Allah SWT.
Hendaklah sebagai wanita muslimah yang hidup di zaman serba modern ini, harus bisa memilih dan memilah mana yang sesuai dengan ajaran Islam dan mana yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Insya Allah, Hidup kita akan terasa nikmat, biarpun cobaan terus menerjang.

Wallahu’a’alam bi showab

Minggu, 23 Juni 2013

INDAHNYA DANA II DI SD 'AISYIYAH KOTA MALANG

Departemen kader adalah departemen yang dibentuk oleh Nasyiatul ‘Aisyiyah untuk menangani kegiatan perkaderan formal maupun informal dengan maksud untuk lebih meningkatkan kualitas kepemimpinan pimpinan dan anggota atau alumni pelatihan formal, serta kegiatan informal lain di laur pelatihan yang relevan.
Kader Nasyiah adalah seseorang yang diharapkan akan memegang peran yang penting dalam organisasi Nasyiatul ‘Aisyiyah. Mengingat Nasyiatul ‘Aisyiyah adalah bagian dari Muhammadiyah dimana kader putri yang bertanggung jawab melanjutkan kepemimpinan persyarikatan, bahkan lebih luas lagi yaitu kepemimpinan umat dan bangsa. Dalam melaksanakan fungsi dan perannya, Nasyiatul ‘Aisyiyah terus menerus akan menghadapi tantangan bahkan ancaman eksternal yang semakin keras dan ketat di semua aspek kehidupan masyarakat, social, ekonomi, budaya dan politik.







Untuk meningkatkan perannya di masyarakat tersebut, Nasyiatul ‘Aisyiyah memerlukan kader yang militan, sabar menghadapi tantangan kehidupan, siaga menggerakkan organisasi, matang kepribadiannya, taat dalam menjalankan ajaran Islam dan berkelanjutan dalam meningkatkan penguasaan berbagai bidang ilmu. Seiring dengan perkembangan zaman saat ini, maka upaya untuk menyelamatkan generasi Islam Putri khususnya, maka kami di dalam organisasi ini ingin menyiapkan kader-kader terbaik untuk persyarikatan dalam meneruskan perjuangan Muhammadiyah.







Pada Tahun 2011 Pimpinan Daerah Nasyiatul ‘Aisyiyah Kota Malang telah melaksanakan Darul Arqam Nasyiatul ‘Aisyiyah I (DANA I). Oleh karena itu Pimpinan Daerah Nasyiatul ‘Aisyiyah Lowokwaru akan mengadakan pelatihan tahap kedua yang disebut dengan Darul Arqam Nasyiatul ‘Aisyiyah II ( DANA II). Jika pada DANA I bertujuan menyiapkan kader Nasyiatul ‘Aisyiyah yang memiliki kesadaran berorganisasi, maka pada pelatihan tahap II ini bertujuan untuk menyiapkan kader Nasyiatul ‘Aisyiyah yang memiliki kesadaran beragama dan kemampuan menjalankan organisasi serta bernegara.

Alhamdulillah, Pada Tanggal 31 Maret 2013, kami Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah Kota Malang telah mengadakan Darul Arqam Nasyiatul ‘Aisyiyah II ( DANA II) yang diikuti oleh 25 Peserta. Namun yang mengikuti kegiatan ini sampai selesai ada 15 orang peserta. 







Peserta mengikuti kegiatan dengan baik, acara ini, diisi oleh Bapak Drs. Nurdin Hasan M.Ag tentang Prinsip Muhammadiyah sebagai gerakan, Ibu Fauziyah mengisi materi Konsep Islam tentang kualitas dan moralitas, Nasyiatul 'Aisyiyah sebagai gerakan persyarikatan oleh Ani Dwi Agustin, M.P, Keorganisasian oleh Sum Haji Alfarozi, Psikologi Sosial dan Komunikasi Organisasi Oleh Ibu Frida Kusumastuti, M.Si dan Pengantar Human Relation oleh Bapak Gonda Yumitro, MA

Dengan terlaksananya Darul Arqam Nasyiatul ‘Aisyiyah II ( DANA II), kami berharap timbul kader-kader Nasyiah yang memiliki kesadaran berorganisasi dan beragama. Alhamdulillah acara ini, peserta tidak kami pungut biaya, karena dana berasal dari para donatur telah mencukupi biaya dari kegiatan ini. Mudah-mudahan dicatat sebagai amal ibadah bagi bapak/ibu/Instansi donatur yang telah memberikan dukungannya sehingga kegiatan ini berjalan dengan baik. Amin

Kamis, 24 Maret 2011

Pergerakan Perempuan Dalam Islam (Wardana Edisi 2)

Dalam Al-qur'an terdapat beberapa ayat yang mengakomodir aspirasi perempuan yang turun segera setelah ada suara dari perempuan. Sebagai contoh, ayat 35 Surat Al-Ahzab yang secara eksplisit mengakui kesetaraan laki-laki dan perempuan di mata Tuhan, turun setelah Ummu Salamah r.a mempertanyakan pada Nabi mengapa kaum perempuan dalam Al-qur'an tidak diungkap sebagaimana kaum laki-laki. Tidak lama kemudian, ketika Nabi berkhotbah diatas mimbar, Nabi mengatakan bahwa Allah SWT telah menurunkan ayat "Orang-orang Islam laki-laki dan orang-orang Islam perempuan, orang-orang beriman laki-laki dan orang-orang beriman perempuan, dan seterusnya. Kepada mereka Allah menyediakan ampunan dan pahala yang besar."

Demikian disebutkan dalam kitab-kitab tafsir dari hadist riwayat Imam Nasa'i dan Ibnu Jarir Abdul Wahid bin Ziyad. Al-Qur'an juga merekam peristiwa pertikaian pasangan suami-istri Khaulha binti Malik bin Tsa'labah dengan suaminya Aus bin Shamit. Khaulah mengadu kepada Nabi bahwa suaminya telah men-zihar-nya (menyerupakan fisik istri dengan ibunya sehingga si istri menjadi haram digauli oleh suaminya). Setelah zihar itu, sang suami terus memaksanya memenuhi kebutuhan biologisnya. Namun Khaulah selalu bersikeras menolak dengan berbagai cara, sampai suaminya menjauh dari Khaulah. Mendengar pengakuan itu, Nabi terdiam. Beberapa saat kemudian, beliau berkata kepada Khaulah yang menolak melayani suaminya, sekaligus memberikan penjelasan mengenai hukum suaminya yang men-zihar istrinya. Pembelaan Al-Qur'an kepada perempuan juga spontan turun ketika Abdullah bin Ubayy bin Salul, gembong kaum munafik, mencoba melacurkan Mu'adzah yang hamil. Dan saat melahirkan, anak yang dilahirkan akan ditebus dengan harga mahal oleh Ubbay. Mu'adzah menolak hal tersebut. Nabi memberikan sebuah pembelaan yang sangat jelas terhadap perempuan seperti Mu'adzah. Bagi perempuan yang dipaksa untuk dilacurkan, Allah secara tegas menyatakan bahwa Dia Maha Pengampun dan Pengasih.

Tiga kasus di atas dengan jelas menunjukkan bahwa keberanian perempuan menyuarakan haknya telah ada di zaman Nabi. Ummu Salamah memperjuangkan hak istri, sementara Mu'adzah memperjuangkan hak reproduksinya dari tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Sekalipun dalam tiga kasus ini mereka kebetulan berbicara sendirian, sesungguhnya mereka menyuarakan suara perempuan secara umum. Yang perlu kita garis bawahi di sini, keberanian itu muncul karena iklim sosial yang dibentuk Nabi Saw sangat kondusif terhadap problema perempuan, termasuk hal paling pribadi sekalipun.

Namun, hubungan kemitraan antara laki-laki dan perempuan ini menjadi surut pasca wafatnya Nabi. Ditambah lagi dengan peristiwa keterlibatan Siti Aisyah dalam Perang Unta melawan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Peristiwa yang kontroversial di kalangan pemikir Islam klasik, dikatakan sebagai penyebab terjadinya perpecahan dalam Islam. Stigma ini semakin kuat di kalangan ulama, sehingga tragedi itu dijadikan justifikasi perempuan Islam untuk tidak berkiprah dalam dunia politik.

Kulminasi dari pembatasan ruang publik bagi perempuan terjadi pada masa Kekhalifahan Daulah Islamiyah dan Abbasiyah. Pada masa kepemimpinan Khalifah al-Walid (743-744 M), pada awalnya perempuan ditempatkan di harem-harem dan tidak punya andil dalam keterlibatan publik. Sistem harem ini semakin kukuh tak tertandingi pada akhir kekhalifahan Abbasiyah, yaitu pertengahan abad ke-13 M.

Pada periode seperti inilah, lahir tafsir Ath-Thabari, Tafsir Ar-Razi, Tafsir Ibnu Katsir dan lainnya, sehingga tidak bisa dipungkiri akan adanya hadist dan tafsir misoginis yang melecehkan perempuan.

Sesungguhnya, Islam sama sekali tidak membedakan jenis kelamin manusia. Yang membedakan antara laki-laki dan perempuan disamping jenis kelaminnya adalah derajat ketaqwaannya di hadapan Allah. Baik laki-laki ataupun perempuan, sama-sama memiliki potensi yang sama dan sejajar. Disinilah letak Maha Adilnya Allah SWT. Allah tidak membedakan antara satu makhluk dengan makhluk yang lain.

Hal-hal yang dapat dilakukan agar di dalam masyarakat kita tidak ada perbedaan kedudukan antara laki-laki dan perempuan sebagai berikut; Pertama, Mengupayakan gerakan perempuan selalu memberikan pencerahan pada masyarakat di sekitar, tentang budaya patriarkhi yang sebagian besar masih membelenggu. Kedua, Gerakan perempuan setara dengan laki-laki dalam hal karier menjadi keharusan untuk dilakukan. Citra ideal perempuan menurut al-Qur'an adalah perempuan yang memiliki kemandirian politik (al-istiqlal al-siyasah) sebagaimana Ratu Balqis yang disebutkan dalam QS. al-Mumtahanah ayat 12. Memiliki kemandirian ekonomi (al-istiqlal al-iqtishadi) dalam QS. al-Nahl : 97, perempuan pengelola peternakan (QS. al-Qashash : 23), memiliki kemandirian dalam menentukan pilihan-pilihan pribadi (al-istiqlal al-syakhshy) yang diyakini kebenarannya, perempuan yang berani menyuarakan kebenaran dan melakukan oposisi terhadap segala kejahatan (QS al-Taubah : 71), dan bahkan Allah menyerukan perang kepada suatu negeri yang menindas kaum perempuan (Nasaruddin Umar, 1999). Ketiga, Menyadarkan bahwa kewajiban untuk mengasuh, menemani dan merawat anak-anak adalah tugas bersama suami dan istri.

Dalam konteks inilah, gerakan advokasi pemikiran diperlukan, dengan cara baca tersendiri yang secara khusus memberikan pemihakan terhadap perempuan agar tidak menjadi korban ketidak-adilan dari struktur sosial yang ikut membentuk bangunan fiqh kita. Cara baca ini diperlukan untuk memastikan bahwa fiqh benar-benar ditegakkan di atas prinsip keadilan yang tidak membedakan eksistensi laki-laki dan perempuan, serta untuk memastikan bahwa perempuan tidak menjadi korban kezaliman dan kekerasan dari struktur sosial.

Sumber :

Meike Agustina, Gerakan perempuan dalam bingkai patriarkhi, Kementerian pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak Republik Indonesia, 09 November 2010

Badriyah Fayumi, Perjuangan perempuan di masa rasulullah,-----------

Dirasah hadis Edisis 15 : Gerakan perempuan; berawal dari kegelisahan untuk mewujudkan keadilan, Rahima : Pusat studi dan informasi Islam dan hak-hak perempuan

*Penulis: Tinuk Dwi Cahyani, S.H, S.H.I, M.Hum, Kabid Litbang PDNA Kota Malang

“WALLAHUA’LAM BISHSHOWAB”

SEMOGA BERMANFAAT

Albirru Manittaqa

“Kebajikan Adalah Bagi Siapa Yang Bertaqwa Kepada Allah”

“DISKURSUS PERAN WANITA DALAM RANAH PUBLIK” (Wardana Edisi 1)

MUQODDIMAH

Isu gender bagi sebagian orang memang terdengar klasik dan agak membosankan. Akan tetapi isu ini tetap penting mengingat Islam sering di tuding sebagai agama yang mendiskriminasi wanita. Pendapat orang-orang yang menuding Islam sebagai agama yang hanya memihak para pria umumnya di dasari pada wajah Islam secara dzahir tanpa memahami esensi dari syariat Islam itu sendiri. Misalnya mengapa wanita diwajibkan menutupkan kain sampai ke dada (Q.S 24:31) atau ke seluruh tubuhnya (Q.S 33:59) sedangkan pria tidak dikenakan kewajiban itu, wanita shalat di shaf belakang dan dibatasi tabir untuk memisahkan dari jama’ah laki-laki yang berada di shaf depan, dan masih banyak contoh lainnya.

Permasalahan yang lain adalah ketika kita mengamati lingkungan disekitar kita, kita akan menyadari bahwa banyak wanita yang tidak mendapatkan hak-nya atau memang sengaja tidak mau menggunakan hak dan potensi yang ia miliki untuk berbuat sesuatu bagi umat ini dengan alasan “saya adalah seorang wanita”. Sebagai contoh saya masih sering mendengar wanita berkata “Buat apa melanjutkan ke perguruan tinggi, toh saya hanyalah seorang wanita”.

Dilain pihak ada segolongan wanita yang menuntut dan menggunakan hak nya secara berlebihan sehingga melakukan eksploitasi dan mendzalimi diri sendiri. Seperti kasus-kasus yang menimpa para artis Indonesia dan dunia saat ini. Mereka adalah para pemuja kebebasan tanpa batas.

Karena itu Islam sebagai satu-satunya agama yang di ridhoi Allah harus dijadikan sebagai perspektif dalam memahami dan menjadi jalan tengah bagi penyelesaian diskursus gender yang ekstrim ini.

GENDER DAN KESETARAAN GENDER DALAM PANDANGAN FEMINIS

Menurut Lips 1 gender adalah cultural expectations for women and men atau harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan. Pengertian lain dari gender tertuang dalam kepmendagri 2 No.132 disebutkan bahwa gender adalah konsep yang mengacu pada peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan yang terjadi akibat dari dan dapat berubah oleh keadaan sosial dan budaya masyarakat. Mufidah3 mengartikan Gender sebagai peran, fungsi dan tanggung jawab antara perempuan dan laki-laki yang dihasilkan oleh konstruksi sosial budaya dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman.

Sedangkan pengertian kesetaraan gender (gender equlity) menurut Mufidah4 adalah posisi sama antara laki-laki dan perempuan dalam memperoleh akses, partisipasi, control, dan manfaat dalam aktivitas kehidupan baik dalam keluarga, masyarakat maupun berbangsa dan Negara.

Pada awal abad ke 18 masyarakat barat masih menganggap bahwa wanita hanyalah warga kelas dua (patriarkhi). Hal ini terbukti dari posisi perempuan yang tertinggal karena kebanyakan perempuan buta huruf, miskin, dan tidak punya keahlian. Satu abad kemudian wanita mulai melibatkan diri dalam aktivitas sosial sehingga muncullah berbagai tokoh dengan pemikirannya di bidang feminisme (gerakan perempuan) dan lahirlah teori-teori feminisme sehingga memperkuat gerakan keperempuan dan perempuan mulai memiliki akses untuk berperan di ranah publik.

Derasnya arus globalisasi budaya mengakibatkan feminisme menyebar dengan cepat ke seluruh dunia termasuk ke Indonesia. Di Indonesia sendiri feminisme menjadi bahan diskusi favorit di berbagai instansi pendidikan tinggi. Beragam seminar dan diskusi mengenai kesetaraan gender pun di selenggarakan. Bahkan masalah feminisme secara formal dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan, di jadikan objek laporan akhir, tesis dan disertasi untuk mendukung paham ini. Bagaimanapun juga, sebuah paham pasti mempengaruhi cara berfikir dan gaya hidup penganutnya. Begitu juga dengan feminisme, paham ini mulai mempengaruhi tatanan dan perilaku sosial, keagamaan hingga sektor industri.

Fenomena Inul Daratista dan para pengikutnya juga tidak dapat dipungkiri sebagai salah satu dampak dari feminisme. Selain itu di lingkungan kerja, terutama dalam industri manufaktur kita akan menjumpai bahwa mayoritas pegawainya adalah wanita. Sebagian besar perusahaan memilih wanita dengan alasan wanita lebih telaten, tekun di dalam bekerja dan cenderung mudah diatur. Bahkan para wanita ini bekerja dengan sistem shift. Permasalahannya akan muncul ketika para pekerja wanita sudah menikah dan memiliki anak, hal ini tentu saja menimbulkan beban ganda bagi mereka.

Fenomena lain yang terjadi di masyarakat kita adalah adanya wanita (istri) bekerja sedangkan suami menganggur di rumah, sehingga suami istri saling bertukar peran. Fenomena ini menurut Ibu Dr. Trisakti Handayani, MSi, pemateri dalam diskusi yang kami selenggarakan yang hasilnya sekarang sedang anda baca ini, merupakan dampak dari teori-teori feminisme yang tidak terpikir oleh para pencetus teori dan sudah menjadi kewajiban kita untuk meluruskannya.

GENDER DAN KESETARAAN GENDER DALAM PANDANGAN ISLAM

Kesetaraan gender dalam agama Islam telah ditetapkan oleh Allah dalam Al Qur’an dan telah disyiarkan oleh Nabi Muhammad SAW lebih dari 14 abad yang silam. Banyak sekali ayat yang menjelaskan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama sebagai khalifah di muka bumi ini. Seperti dalam Al Qur’an surah Ali Imran (3): 195, Al Nisa’ (4) : 124, Al Nahl (16):97, Al Mukmin (40):40 dan masih banyak ayat-ayat lain yang bisa dijadikan rujukan.

Islam merupakan rahmat bagi semesta alam, oleh karena itulah salah satu tugas yang diemban oleh Rasulullah adalah mengangkat harkat dan martabat kaum wanita serta mengubah budaya patriarkhi (cenderung mengutamakan laki-laki lebih dari perempuan).

Nabi Muhammad mengubah wacana dunia arab tentang wanita dan melakukan perombakan tatanan kehidupan sosial sehingga wanita dilibatkan dalam hampir semua lini kehidupan. Sebagai contoh Nabi Muhammad sering menggendong putri beliau (Fatimah Azzahra) secara demonstratif di depan umum. Suatu hal yang dianggap tabu oleh masyarakat Arab pada saat itu. Perlu kita ingat bahwa masyarakat Arab pada masa awal kenabian Nabi Muhammad adalah masyarakat jahiliyah yang memarjinalkan dan menindas kaum wanita. Setiap bayi wanita yang lahir sudah dipastikan terancam nyawanya. Kondisi masyarakat jahiliyah saat itu dikabarkan kepada kita melalui Al Qur’an surah al Nahl 58-59.

“Ketika diberitahukan kepada seseorang diantara mereka perihal kelahiran anak perempuan, wajahnya cemberut menahan sedih. Dia bersembunyi dari orang banyak disebabkan buruknya berita yang diterimanya, boleh jadi ia akan memeliharanya dengan penuh hina atau menguburnya (hidup-hidup) ke dalam tanah”.

Setelah Rasulullah melakukan perombakan tatanan sosial, wanita diposisikan sebagai makluk mulia bahkan disebutkan sebanyak tiga kali sebagai orang yang harus dihormati sebelum menghormati seorang ayah. Dalam ranah publik, Peran wanita pada masa Rasulullah terlihat dalam kondisi peperangan, ‘Aisyah, Ummu Sulaim, Fatimah Azzahra, dan masih banyak tokoh wanita lain ikut bekerja keras membagikan makanan, minuman dan obat-obatan di tengah hujan panah, tikaman tombak dan sabetan pedang, selain itu para wanita juga aktif menuntut ilmu serta aktif terlibat dalam aktivitas sosial.

DISKURSUS PERAN WANITA DALAM RANAH PUBLIK

Diskursus mengenai peran wanita dalam ranah publik menurut perspektif Islam menjadi perdebatan yang krusial antara pihak yang menentang dan pihak yang menyetujui. Permasalahannya adalah perbedaan tafsir terhadap dua dalil, yang pertama adalah hadis lan yufliha qaum waalau amarahum imra’ah (Tidak akan jaya suatu kaum/bangsa yang menyerahkan urusannya kepada wanita) dan yang kedua adalah Q.S An Nisa:34.

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh Karena Allah Telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan Karena mereka (laki-laki) Telah menafkahkan sebagian dari harta mereka”.

Pada umumnya ayat ini dijadikan sebagai penghalang bagi wanita untuk menjadi pemimpin dalam masyarakat. Padahal kata An Nisa dalam ayat ini berarti wanita yang sudah dikenal (istri) karena menggunakan Alif Lam. Sehingga sebenarnya ayat ini berbicara masalah rumah tangga, bahwasanya seorang laki-laki (suami) adalah pemimpin bagi wanita yang sudah dikenalnya (istri).

Sedangkan pihak yang menggunakan dalil lan yufliha qaum waalau amarahum imra’ah juga harus mempertimbangkan sabda Rasulullan SAW berikut ini.

“Apabila amanat telah disia-siakan, maka tunggulah saat kehancurannya. Ditanya kepada Beliau, “Bagaimana hal itu dapat sia-sia?” Dijelaskan oleh Rasulullah, “Apabila suatu perkara diserahkan kepada yang bukan ahlinya”.

Hadits tesebut secara tersurat menyatakan bahwa penyerahan tugas atau tanggung jawab kepada seseorang bukan dilandasi oleh faktor gender, tetapi yang paling utama adalah faktor kompetensi.

1 Lips, Hilary M., Sex & Gender an:Introduction (London:Mayfield Publishing Company, 1993), hal.4.

2 Kepmendagri No.132 tahun 2003 Bab I Ketentuan Umum, Pasal 1.

3 Ch, Mufidah, Psikologi Keluarga Islam Berwawasan Gender (Malang:UIN Malang Press,2008).

4 Ch, Mufidah, Psikologi Keluarga Islam Berwawasan Gender (Malang:UIN Malang Press,2008).

*Penulis: Yayuk Widianah, Sekbid Dokumentasi dan Informasi PDNA Kota Malang.

“WALLAHUA’LAM BISSHOWAB”

SEMOGA BERMANFAAT

Albirru Manittaqa

“Kebajikan Adalah Bagi Siapa Yang Bertaqwa Kepada Allah”

Senin, 07 Februari 2011

”NIAT BAIK, CARANYA SALAH”

Malang, Januari 2010

Oleh: Fatimah Az Zahra

Paijo sebut saja dia seperti itu karena bukan nama aslinya. Kehidupan sehari-harinya adalah kadang nganggur, kadang kerja, biasanya disebut ”pekerjaan serabutan”. Ia tidak memiliki pekerjaan yang tetap alias tidak menentu, sehingga penghasilannya pun tidak menentu. Kadang makan, kadang tidak, begitulah kehidupannya.

Suatu ketika, ia berniat membangun rumahnya yang ”gedhek” (terbuat dari anyaman bambu). Ia bercita-cita membangun rumahnya menjadi rumah gedongan, berlantaikan keramik. Pekerjaan yang tidak menentu membuatnya berpikiran buruk, tetapi semua itu ia lakukan demi kebahagiaan keluarganya. Akhirnya, ia pun memutar otak untuk mewujudkan cita-citanya itu. Suatu saat, diam-diam ia mengikuti kegiatan rutin pak kades, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Kebetulan saat itu, ia ikutan ronda malam. Setiap malam sebelum tidur, pak kades selalu memberi kopi dan makanan ringan untuk hansip yang telah bersedia menjaga keamanan kampungnya. Dari situlah, paijo menemukan ide buruknya. Ia tahu bahwa setiap malam pak kades tidak pernah mengunci pintu rumahnya yang bagian belakang, karena pak kades menganggap keadaan sekitar rumahnya sudah ada yang menjaga, sehingga aman-aman saja, tidak mungkin ada orang yang berniat buruk pada keluarga dan isi rumahnya.

Kebiasaan pak kades telah terbaca oleh paijo, maka setanpun terus menerus menghasut hati paijo yang mulai bimbang. Akhirnya, tanpa hambatan yang berarti paijo menerobos rumah pak kades tanpa kendala. Tanpa banyak suara, aksi mencuri pun segera dilancarkan oleh paijo dan ia berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan.

Pak kades pun panik, ketika mengetahui 2 laptop yang terletak di dalam tas beserta uang tunai dan HP raib, tidak lagi terletak pada tempatnya. Pak kades pun segera melaporkan kasus kehilangannya pada polisi.

Paijo merasa bahagia, karena keinginannya untuk memperbaiki rumahnya segera terwujud. Pasir, batu, semen, dan bahan bangunan lainnya sudah ia beli dari toko bahan bangunan. Ia juga beli sepeda motor dan mesin cuci. Para tetangga terheran-heran pada paijo yang mendadak kaya, karena selama ini paijo tidak bekerja, tetapi bisa beli barang-barang mewah.

Ditengah keramaian pasar dan panasnya terik matahari, polisi dan pak kades langsung menangkap paijo. Tanpa banyak kata dari polisi dan pak kades, paijo langsung diamankan di kantor polisi. Mereka menangkap paijo, karena ada yang ganjal dengan keadaan paijo yang baru saja terjadi yaitu “Kaya Mendadak”. Kehidupan di desa pasti kelihatan, orang yang tidak memiliki pekerjaan, tiba-tiba bisa membeli barang-barang yang tergolong mahal...

Hmmmm.. ada-ada aja... Walaupun Niat kita baik, tapi caranya salah, maka kesengsaraan yang ada. Lebih baik ber “Fastabiqul Khoirot”. Berlomba-lomba dalam hal kebaikan, lebih baik daripada berlomba-lomba dalam hal keburukan.

MUTIARA KALAM

“Pada suatu hari RasulullahSAW, bersabda: ‘Ada seorang diantara kalian yang sudah mencium bau surga’.

Para sahabat heran,lalu mencari orang itu untuk ditanya. Setelah ditemukan orang itu menjawab: ‘Aku tidak bangun malam (untuk shalat), tidak mengerjakan puasa sunnah dan tidak bersedekah sesering kalian. Akan tetapi, setiap malam aku tidur dalam keadaan tidak dengki kepada siapapun’.

Setelah itu, para sahabat mengabarkan kepada Rasulullah SAW apa yang telah dikatakan orang yang mereka temui itu. Rasulullah pun menjawab, “Bukankah kedengkian itulah yang membedakan kehidupan dunia dengan kehidupan surga”.

Subhanallah...

Rasanya sudah sangat jelas apa yang diutarakan oleh Rasulullah diatas. Beliau memberikan petunjuk bahwa seseorang yang tidak menyimpan dengki didalam hati disebutkan telah mencium bau surga dan dijamin akan menjadi calon penghuninya. Dan agar hati kita tetap suci dan bersih, maka perbanyaklah beramal shaleh, dzikir dan istighfar kepada ALLAH. Selain itu, perbanyaklah do’a yang sering diucapkan Rasulullah SAW: “Ya Allah, aku mohon kepadaMU keteguhan dalam menghadapi semua urusan dan bersungguh-sungguh atas kehidupan dalam petunjukMU. Aku memohon kepadaMU hati yang salim (suci dan bersih) dan lidah yang jujur.”

Jika ada calon penghuni surga, tentu juga ada calon penghuni neraka. Nah, siapakah kita jika masih menyimpan rasa dengki dihati??


By: -V3-

Berhenti Menertawakan Bangsa Sendiri

Oleh: Pradana Boy ZTF

Ph.D Research Scholar National University of Singapore (NUS).

TAKSI yang mengantar saya dari Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Singapura itu dikendarai oleh seorang pria berwajah Melayu. Ia lalu menyapa saya, berbasa-basi dan memperkenalkan diri sebagai keturunan Jawa. Orangtuanya berasal dari Jawa Tengah, tepatnya Kendal. Tetapi ia sendiri lahir dan besar di Singapura. Seperti kebanyakan sopir taksi di Indonesia yang sangat well-informed tentang dunia politik; sopir ini juga fasih berbicara tentang hal yang sama. Tetapi yang benar-benar membuat saya terkejut adalah pengetahuannya tentang fakta-fakta politik di Indonesia begitu luas. Hampir tidak ada seluk beluk politik Indonesia yang ia tidak ketahui.

Lebih terkejut lagi, karena yang dia dia ketahui justru fakta-fakta buruk tentang politik dan hukum Indonesia. Ia dengan fasih berbicara tentang kebobrokan hukum di Indonesia, dari soal sindikat narkoba, penanganan masalah TKI dan TKW, sepak terjang Gayus Tambunan, pertarungan antarpelajar dan mahasiswa, penyuapan yang dilakukan oleh orang-orang yang bermasalah hukum kepada para aparat penegak hukum di Indonesia, hingga kecenderungan akan lahirnya politik dinasti di Indonesia. Tak berhenti di situ, iapun berbicara tentang ironi bangsa Indonesia. Sebuah bangsa kaya yang tak kekurangan apa-apa, tetapi rakyatnya miskin. Di sela-sela itu pula dia mengungkapkan keprihatiannya. “Saya turut sedih dengan keadaan seperti ini. Bagaimanapun ada darah Indonesia mengalir dalam diri saya,” katanya.

Percakapan dengan sopir taksi itu telah menggoreskan kesan yang sangat mendalam dalam diri saya. Jika kita renungkan lebih jauh dan serius, maka dengan mudah kita bisa mengambil kesimpulan sementara atau sekadar berspekulasi bahwa situasi tak menentu negara kita itu ternyata telah menjadi bagian dari pengetahuan umum masyarakat negara lain. Sementara di sisi lain, kita juga faham bahwa berita-berita tak sedap sering dengan mudah menyebar ketimbang berita-berita positif. Kita tidak bisa menampik bahwa begitulah situasi kebangsaan kita yang sedang berlangsung saat ini. Sayangnya, dalam situasi yang seperti itu tak jarang kita justru menikmatinya. Bukan dalam arti bahwa kita menikmati carut marut situasi bangsa ini, melainkan kita menikmatinya dalam bentuk menertawakan situasi bangsa kita itu.

Inilah salah satu problem yang tak kalah seriusnya bagi sebagian besar bangsa Indonesia. Dalam percaturan kehidupan berbangsa di Indonesia, menjadi hal yang lumrah untuk menertawakan kehidupan bangsa kita sendiri. Berbagai anekdot tentang buruknya bangsa kita juga menjadi bagian yang tak terpisahkan. Misalnya, dalam berbagai forum kita sering mendengar para pembicara yang warga negara Indonesia, dengan entengnya mengeluarkan pernyataan-pernyataan seperti: “Orang Indonesia adalah orang yang paling pintar, karena sangat ahli membuat hal-hal yang mudah menjadi sulit,” atau “jika masih bisa dipersulit, kenapa dipermudah.” Dua pernyataan yang merujuk kepada berbelit-belitnya birokrasi di Indonesia. Atau malah sebaliknya, “Tidak ada hal yang tidak bisa diselesaikan di Indonesia. Sesulit dan seserius apapun.” Juga, “ada fulus urusan jadi mulus.”

Tanpa kita sadari, pernyataan-pernyataan yang begitu akrab dalam kamus kehidupan berbangsa kita itu sesungguhnya merefleksikan betapa senangnya kita ini menertawakan bangsa sendiri. Sebuah sikap yang tak seharusnya kita lakukan. Namun demikian, sikap seperti itu tak selamanya juga salah. Karena, sikap itu bisa juga dibaca sebagai bentuk ekspresi eskapisme (pelarian diri) dari keputusasaan multidimensional yang melanda seluruh elemen bangsa ini. Menertawakan bangsa sendiri terjadi karena kita putus asa. Sebagian masyarakat merasakan dirinya ibarat anak yatim yang tak tahu harus mengadu kepada siapa untuk semua persoalan yang mereka hadapi. Karena para pemimpin tak lagi bisa menjadi orangtua bagi rakyatnya. Maka menertawakan bangsa sendiri merupakan bentuk protes terselubung, karena sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain tertawa, menertawakan diri sendiri.

Selain menertawakan bangsa sendiri, sikap lain yang sering muncul adalah dengan keengganan untuk kembali ke Indonesia bagi mereka yang studi, berkarir di luar negeri atau tinggal di luar negeri dengan tujuan-tujuan yang lain. Kepada kelompok ini, seringkali dilekatkan problem menipisnya rasa nasionalisme, sehingga lebih memilih membangun negeri orang daripada negeri sendiri. Tetapi sekali lagi, kesalahan tidak bisa serta merta dilekatkan kepada kelompok masyarakat ini, karena pilihan-pilihan itu adalah pilihan rasional yang tentu saja didasarkan pada pertimbangan yang sangat rumit.

Bentuk kekecewaan terhadap keadaan-keadaan ini kemudian memuncak dalam bentuk-bentuk pernyataan seperti “malu menjadi orang Indonesia” dan sejenisnya. Pernyataan seperti ini memiliki dua makna. Ia bermakna negatif manakala itu dimaksudkan sebagai bentuk ejekan. Sebaliknya, itu bisa bermakna positif jika ditempatkan dalam konteks keprihatinan.

Secara pribadi, saya tidak pernah malu menjadi orang Indonesia, sebagaimana pernah disinggung Taufik Abdullah dalam sebuah puisinya. Sayapun tak pernah menyesal menjadi warga negara Indonesia. Tetapi seperti sopir taksi yang berkewarganegaraan Singapura dan berdarah Indonesia tadi, sayapun merasa sedih mengapa semua ironi ini terjadi dalam diri bangsa kita? Pada akhirnya, tak berguna bagi kita untuk menertawakan semua kondisi bangsa ini, tidak bermanfaat pula bersedih, meratap dan menyesal. Karena semua itu tidak akan membawa perubahan sama sekali. Maka kita berhenti menertawakan bangsa sendiri, karena semua di antara kita, dengan kemampuan yang ada pada diri kita, sekecil apapun akan punya sumbangan penting untuk bangkit dari semua situasi ini. Dan berhenti menertawakan bangsa sendiri adalah sebuah langkah awal dan sederhana yang harus kita lakukan. Tak usah menunggu orang lain memulainya. Mari kita mulai dari diri sendiri.