Kamis, 24 Maret 2011

“DISKURSUS PERAN WANITA DALAM RANAH PUBLIK” (Wardana Edisi 1)

MUQODDIMAH

Isu gender bagi sebagian orang memang terdengar klasik dan agak membosankan. Akan tetapi isu ini tetap penting mengingat Islam sering di tuding sebagai agama yang mendiskriminasi wanita. Pendapat orang-orang yang menuding Islam sebagai agama yang hanya memihak para pria umumnya di dasari pada wajah Islam secara dzahir tanpa memahami esensi dari syariat Islam itu sendiri. Misalnya mengapa wanita diwajibkan menutupkan kain sampai ke dada (Q.S 24:31) atau ke seluruh tubuhnya (Q.S 33:59) sedangkan pria tidak dikenakan kewajiban itu, wanita shalat di shaf belakang dan dibatasi tabir untuk memisahkan dari jama’ah laki-laki yang berada di shaf depan, dan masih banyak contoh lainnya.

Permasalahan yang lain adalah ketika kita mengamati lingkungan disekitar kita, kita akan menyadari bahwa banyak wanita yang tidak mendapatkan hak-nya atau memang sengaja tidak mau menggunakan hak dan potensi yang ia miliki untuk berbuat sesuatu bagi umat ini dengan alasan “saya adalah seorang wanita”. Sebagai contoh saya masih sering mendengar wanita berkata “Buat apa melanjutkan ke perguruan tinggi, toh saya hanyalah seorang wanita”.

Dilain pihak ada segolongan wanita yang menuntut dan menggunakan hak nya secara berlebihan sehingga melakukan eksploitasi dan mendzalimi diri sendiri. Seperti kasus-kasus yang menimpa para artis Indonesia dan dunia saat ini. Mereka adalah para pemuja kebebasan tanpa batas.

Karena itu Islam sebagai satu-satunya agama yang di ridhoi Allah harus dijadikan sebagai perspektif dalam memahami dan menjadi jalan tengah bagi penyelesaian diskursus gender yang ekstrim ini.

GENDER DAN KESETARAAN GENDER DALAM PANDANGAN FEMINIS

Menurut Lips 1 gender adalah cultural expectations for women and men atau harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan. Pengertian lain dari gender tertuang dalam kepmendagri 2 No.132 disebutkan bahwa gender adalah konsep yang mengacu pada peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan yang terjadi akibat dari dan dapat berubah oleh keadaan sosial dan budaya masyarakat. Mufidah3 mengartikan Gender sebagai peran, fungsi dan tanggung jawab antara perempuan dan laki-laki yang dihasilkan oleh konstruksi sosial budaya dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman.

Sedangkan pengertian kesetaraan gender (gender equlity) menurut Mufidah4 adalah posisi sama antara laki-laki dan perempuan dalam memperoleh akses, partisipasi, control, dan manfaat dalam aktivitas kehidupan baik dalam keluarga, masyarakat maupun berbangsa dan Negara.

Pada awal abad ke 18 masyarakat barat masih menganggap bahwa wanita hanyalah warga kelas dua (patriarkhi). Hal ini terbukti dari posisi perempuan yang tertinggal karena kebanyakan perempuan buta huruf, miskin, dan tidak punya keahlian. Satu abad kemudian wanita mulai melibatkan diri dalam aktivitas sosial sehingga muncullah berbagai tokoh dengan pemikirannya di bidang feminisme (gerakan perempuan) dan lahirlah teori-teori feminisme sehingga memperkuat gerakan keperempuan dan perempuan mulai memiliki akses untuk berperan di ranah publik.

Derasnya arus globalisasi budaya mengakibatkan feminisme menyebar dengan cepat ke seluruh dunia termasuk ke Indonesia. Di Indonesia sendiri feminisme menjadi bahan diskusi favorit di berbagai instansi pendidikan tinggi. Beragam seminar dan diskusi mengenai kesetaraan gender pun di selenggarakan. Bahkan masalah feminisme secara formal dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan, di jadikan objek laporan akhir, tesis dan disertasi untuk mendukung paham ini. Bagaimanapun juga, sebuah paham pasti mempengaruhi cara berfikir dan gaya hidup penganutnya. Begitu juga dengan feminisme, paham ini mulai mempengaruhi tatanan dan perilaku sosial, keagamaan hingga sektor industri.

Fenomena Inul Daratista dan para pengikutnya juga tidak dapat dipungkiri sebagai salah satu dampak dari feminisme. Selain itu di lingkungan kerja, terutama dalam industri manufaktur kita akan menjumpai bahwa mayoritas pegawainya adalah wanita. Sebagian besar perusahaan memilih wanita dengan alasan wanita lebih telaten, tekun di dalam bekerja dan cenderung mudah diatur. Bahkan para wanita ini bekerja dengan sistem shift. Permasalahannya akan muncul ketika para pekerja wanita sudah menikah dan memiliki anak, hal ini tentu saja menimbulkan beban ganda bagi mereka.

Fenomena lain yang terjadi di masyarakat kita adalah adanya wanita (istri) bekerja sedangkan suami menganggur di rumah, sehingga suami istri saling bertukar peran. Fenomena ini menurut Ibu Dr. Trisakti Handayani, MSi, pemateri dalam diskusi yang kami selenggarakan yang hasilnya sekarang sedang anda baca ini, merupakan dampak dari teori-teori feminisme yang tidak terpikir oleh para pencetus teori dan sudah menjadi kewajiban kita untuk meluruskannya.

GENDER DAN KESETARAAN GENDER DALAM PANDANGAN ISLAM

Kesetaraan gender dalam agama Islam telah ditetapkan oleh Allah dalam Al Qur’an dan telah disyiarkan oleh Nabi Muhammad SAW lebih dari 14 abad yang silam. Banyak sekali ayat yang menjelaskan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama sebagai khalifah di muka bumi ini. Seperti dalam Al Qur’an surah Ali Imran (3): 195, Al Nisa’ (4) : 124, Al Nahl (16):97, Al Mukmin (40):40 dan masih banyak ayat-ayat lain yang bisa dijadikan rujukan.

Islam merupakan rahmat bagi semesta alam, oleh karena itulah salah satu tugas yang diemban oleh Rasulullah adalah mengangkat harkat dan martabat kaum wanita serta mengubah budaya patriarkhi (cenderung mengutamakan laki-laki lebih dari perempuan).

Nabi Muhammad mengubah wacana dunia arab tentang wanita dan melakukan perombakan tatanan kehidupan sosial sehingga wanita dilibatkan dalam hampir semua lini kehidupan. Sebagai contoh Nabi Muhammad sering menggendong putri beliau (Fatimah Azzahra) secara demonstratif di depan umum. Suatu hal yang dianggap tabu oleh masyarakat Arab pada saat itu. Perlu kita ingat bahwa masyarakat Arab pada masa awal kenabian Nabi Muhammad adalah masyarakat jahiliyah yang memarjinalkan dan menindas kaum wanita. Setiap bayi wanita yang lahir sudah dipastikan terancam nyawanya. Kondisi masyarakat jahiliyah saat itu dikabarkan kepada kita melalui Al Qur’an surah al Nahl 58-59.

“Ketika diberitahukan kepada seseorang diantara mereka perihal kelahiran anak perempuan, wajahnya cemberut menahan sedih. Dia bersembunyi dari orang banyak disebabkan buruknya berita yang diterimanya, boleh jadi ia akan memeliharanya dengan penuh hina atau menguburnya (hidup-hidup) ke dalam tanah”.

Setelah Rasulullah melakukan perombakan tatanan sosial, wanita diposisikan sebagai makluk mulia bahkan disebutkan sebanyak tiga kali sebagai orang yang harus dihormati sebelum menghormati seorang ayah. Dalam ranah publik, Peran wanita pada masa Rasulullah terlihat dalam kondisi peperangan, ‘Aisyah, Ummu Sulaim, Fatimah Azzahra, dan masih banyak tokoh wanita lain ikut bekerja keras membagikan makanan, minuman dan obat-obatan di tengah hujan panah, tikaman tombak dan sabetan pedang, selain itu para wanita juga aktif menuntut ilmu serta aktif terlibat dalam aktivitas sosial.

DISKURSUS PERAN WANITA DALAM RANAH PUBLIK

Diskursus mengenai peran wanita dalam ranah publik menurut perspektif Islam menjadi perdebatan yang krusial antara pihak yang menentang dan pihak yang menyetujui. Permasalahannya adalah perbedaan tafsir terhadap dua dalil, yang pertama adalah hadis lan yufliha qaum waalau amarahum imra’ah (Tidak akan jaya suatu kaum/bangsa yang menyerahkan urusannya kepada wanita) dan yang kedua adalah Q.S An Nisa:34.

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh Karena Allah Telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan Karena mereka (laki-laki) Telah menafkahkan sebagian dari harta mereka”.

Pada umumnya ayat ini dijadikan sebagai penghalang bagi wanita untuk menjadi pemimpin dalam masyarakat. Padahal kata An Nisa dalam ayat ini berarti wanita yang sudah dikenal (istri) karena menggunakan Alif Lam. Sehingga sebenarnya ayat ini berbicara masalah rumah tangga, bahwasanya seorang laki-laki (suami) adalah pemimpin bagi wanita yang sudah dikenalnya (istri).

Sedangkan pihak yang menggunakan dalil lan yufliha qaum waalau amarahum imra’ah juga harus mempertimbangkan sabda Rasulullan SAW berikut ini.

“Apabila amanat telah disia-siakan, maka tunggulah saat kehancurannya. Ditanya kepada Beliau, “Bagaimana hal itu dapat sia-sia?” Dijelaskan oleh Rasulullah, “Apabila suatu perkara diserahkan kepada yang bukan ahlinya”.

Hadits tesebut secara tersurat menyatakan bahwa penyerahan tugas atau tanggung jawab kepada seseorang bukan dilandasi oleh faktor gender, tetapi yang paling utama adalah faktor kompetensi.

1 Lips, Hilary M., Sex & Gender an:Introduction (London:Mayfield Publishing Company, 1993), hal.4.

2 Kepmendagri No.132 tahun 2003 Bab I Ketentuan Umum, Pasal 1.

3 Ch, Mufidah, Psikologi Keluarga Islam Berwawasan Gender (Malang:UIN Malang Press,2008).

4 Ch, Mufidah, Psikologi Keluarga Islam Berwawasan Gender (Malang:UIN Malang Press,2008).

*Penulis: Yayuk Widianah, Sekbid Dokumentasi dan Informasi PDNA Kota Malang.

“WALLAHUA’LAM BISSHOWAB”

SEMOGA BERMANFAAT

Albirru Manittaqa

“Kebajikan Adalah Bagi Siapa Yang Bertaqwa Kepada Allah”

Senin, 07 Februari 2011

”NIAT BAIK, CARANYA SALAH”

Malang, Januari 2010

Oleh: Fatimah Az Zahra

Paijo sebut saja dia seperti itu karena bukan nama aslinya. Kehidupan sehari-harinya adalah kadang nganggur, kadang kerja, biasanya disebut ”pekerjaan serabutan”. Ia tidak memiliki pekerjaan yang tetap alias tidak menentu, sehingga penghasilannya pun tidak menentu. Kadang makan, kadang tidak, begitulah kehidupannya.

Suatu ketika, ia berniat membangun rumahnya yang ”gedhek” (terbuat dari anyaman bambu). Ia bercita-cita membangun rumahnya menjadi rumah gedongan, berlantaikan keramik. Pekerjaan yang tidak menentu membuatnya berpikiran buruk, tetapi semua itu ia lakukan demi kebahagiaan keluarganya. Akhirnya, ia pun memutar otak untuk mewujudkan cita-citanya itu. Suatu saat, diam-diam ia mengikuti kegiatan rutin pak kades, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Kebetulan saat itu, ia ikutan ronda malam. Setiap malam sebelum tidur, pak kades selalu memberi kopi dan makanan ringan untuk hansip yang telah bersedia menjaga keamanan kampungnya. Dari situlah, paijo menemukan ide buruknya. Ia tahu bahwa setiap malam pak kades tidak pernah mengunci pintu rumahnya yang bagian belakang, karena pak kades menganggap keadaan sekitar rumahnya sudah ada yang menjaga, sehingga aman-aman saja, tidak mungkin ada orang yang berniat buruk pada keluarga dan isi rumahnya.

Kebiasaan pak kades telah terbaca oleh paijo, maka setanpun terus menerus menghasut hati paijo yang mulai bimbang. Akhirnya, tanpa hambatan yang berarti paijo menerobos rumah pak kades tanpa kendala. Tanpa banyak suara, aksi mencuri pun segera dilancarkan oleh paijo dan ia berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan.

Pak kades pun panik, ketika mengetahui 2 laptop yang terletak di dalam tas beserta uang tunai dan HP raib, tidak lagi terletak pada tempatnya. Pak kades pun segera melaporkan kasus kehilangannya pada polisi.

Paijo merasa bahagia, karena keinginannya untuk memperbaiki rumahnya segera terwujud. Pasir, batu, semen, dan bahan bangunan lainnya sudah ia beli dari toko bahan bangunan. Ia juga beli sepeda motor dan mesin cuci. Para tetangga terheran-heran pada paijo yang mendadak kaya, karena selama ini paijo tidak bekerja, tetapi bisa beli barang-barang mewah.

Ditengah keramaian pasar dan panasnya terik matahari, polisi dan pak kades langsung menangkap paijo. Tanpa banyak kata dari polisi dan pak kades, paijo langsung diamankan di kantor polisi. Mereka menangkap paijo, karena ada yang ganjal dengan keadaan paijo yang baru saja terjadi yaitu “Kaya Mendadak”. Kehidupan di desa pasti kelihatan, orang yang tidak memiliki pekerjaan, tiba-tiba bisa membeli barang-barang yang tergolong mahal...

Hmmmm.. ada-ada aja... Walaupun Niat kita baik, tapi caranya salah, maka kesengsaraan yang ada. Lebih baik ber “Fastabiqul Khoirot”. Berlomba-lomba dalam hal kebaikan, lebih baik daripada berlomba-lomba dalam hal keburukan.

MUTIARA KALAM

“Pada suatu hari RasulullahSAW, bersabda: ‘Ada seorang diantara kalian yang sudah mencium bau surga’.

Para sahabat heran,lalu mencari orang itu untuk ditanya. Setelah ditemukan orang itu menjawab: ‘Aku tidak bangun malam (untuk shalat), tidak mengerjakan puasa sunnah dan tidak bersedekah sesering kalian. Akan tetapi, setiap malam aku tidur dalam keadaan tidak dengki kepada siapapun’.

Setelah itu, para sahabat mengabarkan kepada Rasulullah SAW apa yang telah dikatakan orang yang mereka temui itu. Rasulullah pun menjawab, “Bukankah kedengkian itulah yang membedakan kehidupan dunia dengan kehidupan surga”.

Subhanallah...

Rasanya sudah sangat jelas apa yang diutarakan oleh Rasulullah diatas. Beliau memberikan petunjuk bahwa seseorang yang tidak menyimpan dengki didalam hati disebutkan telah mencium bau surga dan dijamin akan menjadi calon penghuninya. Dan agar hati kita tetap suci dan bersih, maka perbanyaklah beramal shaleh, dzikir dan istighfar kepada ALLAH. Selain itu, perbanyaklah do’a yang sering diucapkan Rasulullah SAW: “Ya Allah, aku mohon kepadaMU keteguhan dalam menghadapi semua urusan dan bersungguh-sungguh atas kehidupan dalam petunjukMU. Aku memohon kepadaMU hati yang salim (suci dan bersih) dan lidah yang jujur.”

Jika ada calon penghuni surga, tentu juga ada calon penghuni neraka. Nah, siapakah kita jika masih menyimpan rasa dengki dihati??


By: -V3-